d4tlm.umsida.ac.id – Dalam dunia laboratorium medis, pengambilan sampel darah sering terlihat sebagai tindakan sederhana. Pasien datang, petugas mengambil darah, lalu sampel dibawa untuk diperiksa.
Namun, di balik proses yang tampak singkat itu, ada ketelitian besar yang menentukan apakah hasil pemeriksaan benar-benar dapat dipercaya.
Menurut Modul Praktikum Hematologi 1, pemeriksaan hematologi umumnya menggunakan darah kapiler maupun darah vena.
Darah kapiler biasanya diambil dalam skala kecil atau kurang dari 1 ml, sedangkan darah vena digunakan untuk kebutuhan pemeriksaan dengan volume lebih besar.
Perbedaan jenis sampel ini menunjukkan bahwa setiap pemeriksaan membutuhkan teknik pengambilan yang sesuai.
Jika tahap awal ini keliru, maka pemeriksaan berikutnya berisiko ikut terdampak.
Laboratorium bukan hanya soal alat canggih atau reagen yang lengkap, tetapi juga tentang bagaimana sampel pertama kali diperoleh.
Sebab, sampel yang kurang baik dapat menghasilkan data yang kurang akurat.
Kesalahan Kecil yang Bisa Mengubah Hasil
Dalam praktik mikrosampling, modul tersebut menjelaskan bahwa pengambilan darah kapiler tidak boleh dilakukan sembarangan.
Bagian yang akan ditusuk harus bebas dari gangguan peredaran darah, seperti pucat, peradangan, trauma, atau sianosis setempat.
Bahkan, pemilihan jari pun perlu diperhatikan. Pada orang dewasa, jari tengah atau jari manis menjadi pilihan yang dianjurkan.
Kesalahan yang tampak kecil dapat memberi pengaruh besar.
Misalnya, penusukan yang kurang dalam membuat darah sulit keluar sehingga jari harus ditekan kuat.
Padahal, tekanan yang berlebihan dapat menyebabkan cairan jaringan ikut keluar dan bercampur dengan darah.
Akibatnya, sampel menjadi encer dan tidak lagi menggambarkan kondisi darah secara murni.
Hal lain yang juga ditekankan ialah larangan menusuk kulit saat masih basah oleh alkohol.
Jika hal itu terjadi, darah dapat menjadi encer dan melebar di permukaan kulit, sehingga sulit diambil menggunakan pipet.
Ini menjadi pengingat bahwa ketelitian dalam laboratorium dimulai dari hal-hal yang paling dasar.
Ketelitian Petugas, Keselamatan Pasien
Pada makrosampling atau pengambilan darah vena, ketelitian juga menjadi kunci. Pengambilan darah vena pada orang dewasa umumnya dilakukan pada vena di daerah fossa cubiti.
Prosedur ini memerlukan alat seperti spuit, jarum, tourniquet, kapas, alkohol, botol sampel, label, hingga antikoagulan.
Penggunaan jarum sekali pakai menjadi bagian penting dari keselamatan pasien. Begitu pula pemasangan tourniquet yang tidak boleh membuat pasien merasa sakit.
Setelah darah diperoleh, sampel perlu dimasukkan ke botol yang telah diberi label identitas dan dicampur dengan antikoagulan agar tidak membeku.
Dalam pemeriksaan hematologi, EDTA disebut sebagai antikoagulan yang banyak digunakan karena tidak mengubah morfologi sel dalam jangka waktu tertentu.
Hal ini penting, terutama ketika sampel akan digunakan untuk membuat hapusan darah atau pemeriksaan selanjutnya.
Dari sini terlihat bahwa tenaga laboratorium medis memiliki tanggung jawab besar.
Mereka bekerja di balik layar, tetapi hasil kerjanya menjadi dasar bagi dokter dan tenaga kesehatan lain dalam mengambil keputusan klinis.
Pengambilan sampel darah yang benar bukan hanya urusan teknis, melainkan bagian dari etika, profesionalisme, dan keselamatan pasien.
Pada akhirnya, setetes darah dapat membawa banyak informasi tentang tubuh seseorang.
Namun, informasi itu hanya akan bermakna jika sampelnya diambil dengan cara yang benar, hati-hati, dan sesuai prosedur.(Elfirarm)
Sumber: Modul Praktikum Hematologi 1 TLM Umsida
Puspitasari, S.ST, M.PH & Andika Aliviameita, S. ST, M.Si
















