Formalin pada Ikan Masih Ditemukan, Ancaman Kesehatan yang Tak Bisa Diabaikan

d4tlm.umsida.ac.id – Ikan dikenal sebagai sumber protein yang menyehatkan dan banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Namun di balik manfaat tersebut, masih tersimpan ancaman serius yang sering tidak disadari, yaitu penyalahgunaan formalin sebagai bahan pengawet.

Praktik ini bukan hal baru, tetapi hingga kini masih ditemukan di lapangan dan berpotensi membahayakan kesehatan.

Penelitian mahasiswa dan dosen Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (TLM FIKES Umsida).

Pada jurnal kesehatan menunjukkan bahwa sebagian produsen masih menggunakan formalin karena harganya murah dan efektif menjaga tampilan ikan tetap segar lebih lama. Padahal, penggunaan formalin dalam bahan pangan telah dilarang karena sifatnya yang berbahaya bagi tubuh.

Praktik Pengawetan yang Berisiko

Ikan merupakan bahan pangan yang mudah rusak karena aktivitas mikroorganisme. Tanpa penanganan yang tepat, ikan cepat mengalami pembusukan dan menimbulkan bau tidak sedap.

Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh oknum produsen untuk menggunakan cara instan, yaitu menambahkan formalin agar ikan terlihat segar lebih lama.

Lihat Juga: Limbah Sekam Padi yang Terabaikan Bisa Cemari Lingkungan, Ini Temuan Riset Umsida

Formalin sendiri merupakan cairan kimia yang tidak berwarna dengan bau menyengat dan dikenal sebagai zat pengawet non-pangan. Dalam dunia industri, formalin digunakan untuk mengawetkan mayat atau bahan biologis, bukan untuk makanan.

Namun kenyataannya, karena mudah didapat dan murah, formalin masih disalahgunakan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan keamanan pangan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kesadaran dan tanggung jawab pelaku usaha.

Dampak Serius bagi Kesehatan
Sumber: Pexels

Bahaya formalin tidak bisa dianggap remeh. Zat ini bersifat karsinogenik, yang berarti dapat memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Selain itu, formalin juga dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, gangguan pencernaan, hingga kerusakan organ.

Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa batas aman formalin dalam tubuh sangat rendah, sehingga paparan berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Masalahnya, banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa ikan yang mereka konsumsi telah terkontaminasi formalin.

Kondisi ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena konsumsi ikan merupakan bagian dari pola makan sehari-hari. Artinya, risiko paparan formalin bisa terjadi secara berulang tanpa disadari.

Baca Juga: Antibakteri Alami, Ekstrak Daun Kumis Kucing Terbukti Hambat Bakteri ISK

Perlu Kesadaran dan Solusi yang Lebih Aman

Mengatasi masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan regulasi. Diperlukan kesadaran bersama, baik dari produsen, distributor, maupun konsumen. Produsen harus beralih pada metode pengawetan yang aman, seperti pendinginan atau penggunaan bahan alami.

Penelitian juga menunjukkan bahwa bahan alami seperti bawang merah memiliki potensi untuk menurunkan kadar formalin pada ikan. Kandungan senyawa aktif di dalamnya mampu membantu mengurangi zat berbahaya tersebut secara signifikan .

Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih teliti dalam memilih bahan pangan. Ciri-ciri ikan yang terlalu awet, tidak berbau, atau memiliki tekstur tidak wajar perlu diwaspadai.

Pada akhirnya, keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Selama praktik penyalahgunaan formalin masih terjadi, maka ancaman kesehatan akan terus membayangi. Kesadaran dan edukasi menjadi kunci utama untuk melindungi masyarakat dari risiko yang tidak terlihat ini.

Sumber: Riset Galuh Ratmana Hanum, S Si MSi & mahasiswa

Penulis: Elfira Armilia

Bertita Terkini

Mahasiswa TLM Umsida Diuji di OSCE 2026, Siap Terjun ke Dunia Kerja Medis
May 4, 2026By
PKL D4 TLM Umsida Jadi Bekal Penting Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Kesehatan
February 9, 2026By
Siapkan Analis Laboratorium Unggul, FIKES Umsida Angkat Isu Diagnosis Virus Global
January 25, 2026By
Belajar dari Praktisi, Mahasiswa D4 TLM Umsida Dalami Peran Biologi Molekuler di Rumah Sakit
January 17, 2026By
Sumpah Profesi ke-XIV, Lulusan ATLM FIKES Umsida Siap Mengabdi untuk Kesehatan Masyarakat
December 18, 2025By
Luka diabetes
Ciptakan Solusi Penyembuhan Luka Diabetes Berbasis Limbah Cangkang Kupang, Tim PKM TLM Umsida Sukses Peroleh Hibah
August 28, 2025By
diabetes
Fikes Umsida Gelar Globinar, Ungkap Diabetes Tipe 2 Penyebab dan Pencegahannya
August 24, 2025By
hibah
D4 TLM Umsida Raih Hibah Sertifikasi Kompetensi: Meningkatkan Kualitas Kompetensi Mahasiswa di Dunia Industri
August 9, 2025By

Prestasi

Abyan Mahasiswa TLM Umsida Sabet Emas Karate Nasional di UMM Championship 2026
May 25, 2026By
Prestasi Karate Nasional, Mahasiswa TLM Umsida Bawa Pulang Medali Perak
May 18, 2026By
Mahasiswa TLM Umsida Bawa Pulang Medali Perak Kata Perorangan di Kejuaraan Nasional
May 11, 2026By
Tim Paduan Suara TLM Umsida Juara 1 Nasional 2026
April 13, 2026By
Atlet Karate Umsida Sukses Bawa Pulang Medali Perunggu dari Kejuaraan Kota Batu
February 16, 2026By
Perjuangan Hingga Podium, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 Batu Karate Challenge
January 10, 2026By
Riset Panjang Berbuah Manis, Mahasiswa TLM Umsida Juara 1 Poster PKM-RE PIMTANAS 2025
January 3, 2026By
Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 1 Pilmapres PTMA dan Menjadi Wisudawan Berprestasi
December 1, 2025By