d4tlm.umsida.ac.id – Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali menorehkan prestasi melalui tim laboran Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medis (TLM).
Tim tersebut berhasil meraih Best Presenter 1 dalam ajang Karya Inovasi Laboran & Tenaga Kependidikan (KILAT) 2026 melalui inovasi berjudul “AGARUT: Formulasi Agar dan Tepung Garut sebagai Substitusi Agarosa pada Praktikum Biologi Molekuler”.
Inovasi ini dikembangkan oleh Novi Dwi Kusuma, A.Md.AK., S.Si. sebagai ketua bersama Leni Yuroh Widyaningrum, S.ST. dan tim sebagai anggota.
Menurut Novi, capaian tersebut merupakan buah dari kerja sama dan dukungan berbagai pihak, mulai dari Program Studi TLM, FIKP Umsida, universitas, hingga sesama laboran.
“Alhamdulillah, ini adalah hasil kerja tim dan tentunya juga berkat dukungan dari institusi, baik dari Prodi TLM, fakultas, universitas, serta teman-teman laboran lainnya,” ungkap Novi.
Gagasan AGARUT berangkat dari pengalaman dalam mendukung praktikum Biologi Molekuler, khususnya materi elektroforesis.
Dalam pembelajaran tersebut, mahasiswa perlu memiliki keterampilan melakukan pipetting sampel DNA/RNA ke dalam sumuran gel agarosa. Kemampuan ini membutuhkan latihan secara berulang agar mahasiswa semakin terbiasa dan terampil.
AGARUT Hadir sebagai Media Latihan Pipetting

Proses latihan pipetting tidak selalu berjalan mudah. Kesalahan seperti sampel yang tidak masuk ke sumuran atau gel yang tertusuk dapat terjadi ketika mahasiswa masih dalam tahap belajar. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi visualisasi hasil elektroforesis.
Di sisi lain, penggunaan agarosa secara berulang juga menjadi pertimbangan karena bahan tersebut memiliki harga yang relatif mahal. Semakin banyak latihan yang dilakukan, semakin besar pula kebutuhan bahan habis pakai di laboratorium.
Situasi tersebut mendorong tim laboran TLM Umsida mencari alternatif yang lebih ekonomis. AGARUT kemudian dikembangkan sebagai bahan substitusi agarosa yang secara khusus digunakan untuk mendukung latihan teknik pipetting mahasiswa.
“Untuk menguasai teknik ini diperlukan latihan berulang, yang tentu berpengaruh pada jumlah penggunaan agarose,” jelas Novi.
Dengan AGARUT, mahasiswa dapat berlatih memasukkan sampel ke dalam sumuran gel secara berulang tanpa harus selalu menggunakan agarosa pabrikan.
Latihan tersebut diharapkan membantu mahasiswa membangun keterampilan sebelum menerapkan prosedur menggunakan bahan standar dalam praktikum elektroforesis.
Terus Dikembangkan untuk Dukung Pembelajaran Laboratorium

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pengembangan AGARUT adalah biaya produksinya.
Bahan dasar yang digunakan relatif terjangkau dan mudah diperoleh sehingga berpotensi menjadi alternatif untuk kebutuhan latihan di laboratorium.
Meski demikian, Novi menjelaskan bahwa formulasi AGARUT saat ini masih membutuhkan penyempurnaan.
Produk yang dikembangkan telah mampu memenuhi tujuan awal sebagai media latihan pipetting, tetapi kemampuan migrasi sampel DNA/RNA masih belum optimal jika dibandingkan dengan agarosa pabrikan.
“Formulasi yang kami kembangkan saat ini masih pada tekstur yang mirip dan sampel DNA/RNA bisa bermigrasi meskipun belum maksimal,” terangnya.
Ke depan, tim berharap formulasi AGARUT dapat terus diperbaiki sehingga mampu menghasilkan karakteristik dan akurasi elektroforesis yang semakin mendekati agarosa pabrikan. Pengembangan tersebut diharapkan memperluas manfaat AGARUT sebagai bagian dari inovasi pembelajaran Biologi Molekuler.
Bagi Novi, inovasi laboran juga memiliki peran dalam mendukung kualitas pelayanan laboratorium sekaligus proses pembelajaran mahasiswa. Karena itu, kreativitas dan kolaborasi antar-laboran perlu terus dikembangkan agar menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata.
“Semoga kita terus bisa berinovasi yang manfaatnya tidak hanya mempermudah tugas kita sebagai laboran, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas pelayanan laboratorium serta mendukung proses pembelajaran dan praktikum,” ujarnya.(Elfirarm)
















