d4tlm.umsida.ac.id – Penggunaan antibiotik memang menjadi andalan dalam mengatasi infeksi bakteri. Namun, di tengah meningkatnya kekhawatiran resistensi antibiotik, masyarakat mulai melirik kembali tanaman herbal sebagai alternatif.
Salah satu yang kerap disebut adalah daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus). Pertanyaannya, seberapa efektif tanaman ini jika dibandingkan dengan antibiotik?
Riset yang dilakukan mahasiswa Prodi Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Khairun Nisak bersama dosen Chylen Setiyo Rini, SSi MSi.
Menjawab pertanyaan tersebut melalui risetnya dengan uji efektivitas antibakteri ekstrak daun kumis kucing terhadap bakteri penyebab infeksi saluran kemih .
Kumis Kucing dan Ancaman Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi yang paling sering terjadi setelah infeksi saluran pernapasan . Bakteri seperti Proteus mirabilis dan Staphylococcus saprophyticus menjadi dua penyebab utama kasus ini. Selama ini, antibiotik seperti ampisilin digunakan sebagai terapi standar.
Baca Juga: TLM Umsida Ungkap Jenis Dermatofita Penyebab Tinea Unguium di Bangkalan
Namun, penggunaan antibiotik jangka panjang tanpa pengawasan dapat memicu resistensi. Di sinilah potensi herbal seperti daun kumis kucing menjadi menarik untuk diteliti.
Tanaman ini dikenal memiliki kandungan senyawa aktif seperti alkaloid, saponin, steroid, triterpenoid, fenolik dan tanin yang bersifat antibakteri .
Secara tradisional, kumis kucing sudah lama digunakan sebagai peluruh kencing dan antiinflamasi. Akan tetapi, bukti ilmiah tetap dibutuhkan untuk memastikan efektivitasnya dalam menghambat pertumbuhan bakteri.
Uji Laboratorium: Seberapa Kuat Daya Hambatnya?

Penelitian ini menggunakan metode difusi cakram di laboratorium Bakteriologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo . Ekstrak daun kumis kucing diuji dalam konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, dengan ampisilin sebagai kontrol positif serta DMSO 10% sebagai kontrol negatif.
Hasilnya cukup menarik. Pada bakteri Proteus mirabilis, konsentrasi 100% menghasilkan zona hambat rata-rata 21,22 mm . Sementara pada Staphylococcus saprophyticus, zona hambat rata-rata mencapai 20,71 mm .
Berdasarkan klasifikasi daya hambat, angka di atas 20 mm masuk kategori “sangat kuat”.
Sebagai pembanding, ampisilin menunjukkan zona hambat yang lebih besar, yakni sekitar 26–28 mm. Artinya, antibiotik tetap lebih unggul dalam hal daya hambat.
Namun yang menarik, ekstrak daun kumis kucing pada konsentrasi tinggi menunjukkan efektivitas signifikan secara statistik (p=0,000 < 0,05) .
Dengan kata lain, meskipun tidak menyamai antibiotik, herbal ini memiliki potensi antibakteri yang nyata.
Herbal sebagai Alternatif atau Pendamping?
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kumis kucing mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif maupun gram negatif. Efektivitasnya dipengaruhi oleh struktur dinding sel bakteri serta konsentrasi ekstrak yang digunakan .
Antibiotik tetap menjadi terapi utama untuk infeksi bakteri akut. Namun, penelitian ini membuka peluang bahwa daun kumis kucing dapat dikembangkan sebagai terapi pendamping atau alternatif pada kasus tertentu, terutama untuk pencegahan atau infeksi ringan.
Pendekatan berbasis herbal juga dapat menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada antibiotik, sekaligus menekan risiko resistensi.
Cek Selengkapnya: Aplikasi Deteksi Dini Anemia untuk Remaja, Solusi Digital Cegah Stunting
Tentu saja, diperlukan penelitian lanjutan mengenai dosis aman, toksisitas, dan uji klinis pada manusia sebelum diaplikasikan secara luas.
Riset yang dilakukan ini menjadi bukti bahwa tanaman lokal memiliki potensi ilmiah yang tidak bisa diabaikan.
Herbal dan antibiotik bukanlah dua kubu yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa saling melengkapi dalam sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan dan berbasis bukti ilmiah.
Sumber: Riset mahasiswa TLM Umsida
Penulis: Elfira Armilia















