d4tlm.umsida.ac.id – Cincau hitam dikenal sebagai minuman segar yang banyak digemari masyarakat. Namun di balik kesegarannya, ada potensi bahaya yang kerap tersembunyi, yaitu penggunaan formalin sebagai bahan pengawet.
Untuk mengatasi masalah ini, riset dosen Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida) menghadirkan solusi alami melalui pemanfaatan daun pandan.
Penelitian yang ditulis oleh Galuh Ratmana Hanum SSi MSi, Syahrul Ardiansyah SSi MSi dan tim menunjukkan bahwa daun pandan memiliki potensi besar dalam menurunkan kadar formalin pada cincau hitam .
Temuan ini menjadi alternatif penting di tengah maraknya penyalahgunaan bahan kimia dalam makanan.
Baca Juga: Kurangi Sampah Organik yang Menumpuk di Daerah NTT, Dosen Umsida Lakukan Ini
Formalin Masih Jadi Masalah dalam Pangan

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa cincau hitam memiliki daya simpan yang pendek, sehingga sebagian produsen memilih menggunakan formalin agar produk bertahan lebih lama.
Padahal, formalin merupakan zat beracun yang tidak diperuntukkan bagi makanan.
Formalin dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi, gangguan pencernaan, hingga risiko kanker. Jika dikonsumsi dalam jumlah tinggi, zat ini bahkan dapat memicu keracunan yang berbahaya bagi tubuh.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keamanan pangan masih menjadi tantangan serius. Kurangnya kesadaran produsen serta minimnya pengetahuan masyarakat membuat praktik penggunaan formalin masih ditemukan di lapangan.
Daun Pandan Jadi Solusi Alami
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa daun pandan mengandung senyawa aktif seperti saponin yang mampu menurunkan kadar formalin. Saponin bekerja sebagai surfaktan alami yang dapat mengikat partikel formalin dan membantu melarutkannya dalam air.
Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi sari daun pandan sebesar 25 persen dengan waktu perendaman 60 menit menjadi kondisi paling efektif. Pada kondisi tersebut, kadar formalin pada cincau hitam mampu turun secara signifikan dari 0,3010 mg/g menjadi 0,0896 mg/g.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama proses perendaman, maka semakin besar kemampuan daun pandan dalam menurunkan kadar formalin.
Pendekatan ini menjadi solusi sederhana namun berdampak besar dalam meningkatkan keamanan pangan.
Inovasi Sederhana untuk Keamanan Konsumen
Pemanfaatan daun pandan sebagai pereduksi formalin menjadi contoh bahwa bahan alami di sekitar kita memiliki potensi besar untuk mendukung kesehatan.
Cek Juga: Riset Ungkap Rendahnya Kesadaran Kebersihan Kolam Renang dan Risikonya bagi Kesehatan
Selain mudah didapat, daun pandan juga aman digunakan dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi edukasi bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap makanan yang dikonsumsi.
Di sisi lain, produsen juga didorong untuk beralih pada metode pengolahan yang lebih aman dan ramah kesehatan.
Pada akhirnya, keamanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh masyarakat.
Dengan memanfaatkan inovasi sederhana seperti daun pandan, risiko paparan bahan berbahaya seperti formalin dapat diminimalkan, sehingga konsumsi makanan menjadi lebih aman dan sehat.
Sumber: Riset Galuh Ratmana Hanum SSi MSi &tim
Penulis: Elfira Armilia















