d4tlm.umsida.ac.id – Kebiasaan menggunakan minyak goreng secara berulang masih banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Faktor ekonomi, kenaikan harga bahan pokok, hingga minimnya pemahaman tentang risiko kesehatan menjadikan praktik ini seolah lumrah.
Padahal, di balik kebiasaan dapur tersebut, tersimpan persoalan kesehatan yang tidak sederhana.
Baca Juga: Terlalu Bersih Bisa Berbahaya: Dampak Sabun Antiseptik terhadap pH Wanita
Hal ini terungkap melalui riset laboratorium yang dilakukan oleh Galuh Ratmana Hanum, S Si M Si, dosen Program Studi D-IV Teknologi Laboratorium Medis (tTLM).
Bersama Intan Febiola Arianing Mahasiswa TLM Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Penelitian tersebut menyoroti bagaimana penggunaan minyak goreng kelapa sawit secara berulang memicu perubahan kualitas kimia yang berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat.
Kebiasaan Dapur yang Terbentuk oleh Faktor Ekonomi
Kenaikan harga minyak goreng dari tahun ke tahun mendorong masyarakat untuk lebih hemat dalam penggunaannya. Salah satu cara yang dianggap praktis adalah menggunakan minyak goreng berulang kali.
Cek Juga: TLM Umsida Ungkap Jenis Dermatofita Penyebab Tinea Unguium di Bangkalan
Sayangnya, kebiasaan ini sering kali tidak disertai kesadaran akan perubahan mutu minyak yang terjadi akibat pemanasan berulang.
Riset Galuh Ratmana Hanum dan Intan Febiola Arianing menunjukkan bahwa semakin lama minyak digunakan, semakin besar degradasi kualitas trigliserida yang ditandai dengan perubahan warna, densitas, dan kadar. Fakta ini memperlihatkan bahwa kebiasaan yang terbentuk karena alasan ekonomi justru berpotensi menimbulkan beban kesehatan di kemudian hari.
Risiko Kesehatan yang Masih Dianggap Sepele

Penggunaan minyak goreng berulang tidak hanya menurunkan mutu pangan, tetapi juga memicu terbentuknya senyawa berbahaya seperti asam lemak bebas dan lemak trans.
Senyawa ini berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan gangguan metabolik apabila dikonsumsi secara terus-menerus.
Cek Selengkapnya: Olah Limbah Cangkang Kupang, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 PKP2 PTMA 2025
Namun, risiko tersebut kerap tidak disadari masyarakat karena perubahan kimia minyak tidak selalu terlihat secara kasat mata.
Inilah yang menjadikan penggunaan minyak goreng berulang sebagai ancaman kesehatan yang bersifat laten dan sulit dideteksi tanpa pendekatan ilmiah.
Tantangan Edukasi Kesehatan Berbasis Bukti Ilmiah
Temuan riset ini menegaskan bahwa tantangan utama bukan hanya pada perilaku masyarakat, tetapi juga pada pola edukasi kesehatan yang masih terbatas.
Edukasi tentang minyak goreng sering kali berhenti pada aspek visual, seperti warna dan bau, tanpa menyentuh perubahan kimia yang lebih mendasar.
Melalui riset berbasis laboratorium, Galuh Ratmana Hanum dan Intan Febiola Arianing menunjukkan pentingnya peran akademisi dalam menjembatani sains dan masyarakat.
Edukasi kesehatan perlu dikemas secara sederhana, kontekstual dan berbasis bukti agar mampu mengubah kebiasaan dapur menjadi praktik yang lebih aman.
Kesadaran ini menjadi langkah awal dalam membangun budaya pangan sehat dan mencegah risiko penyakit jangka panjang di tengah masyarakat.
Sumber: Riset Galuh Ratmana Hanum, SSi MSi
Penulis:Elfira Armilia















