d4tlm.umsida.ac.id – Pemeriksaan laboratorium seperti tes gula darah, kolesterol, maupun fungsi ginjal sering kali memerlukan kondisi puasa terlebih dahulu.
Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami persiapan yang tepat sebelum menjalani pemeriksaan tersebut, terutama saat bulan Ramadan.
Dosen Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Andika Aliviameita SST MSi.
Menjelaskan bahwa kesalahan kecil sebelum tes laboratorium dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.
Baca Juga: Olah Limbah Cangkang Kupang, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 PKP2 PTMA 2025
“Beberapa pemeriksaan seperti glukosa darah dan profil lipid memang memerlukan kondisi puasa karena makanan atau minuman yang dikonsumsi sebelumnya dapat memengaruhi kadar zat dalam darah,” jelasnya.
Jika persiapan sebelum pemeriksaan tidak dilakukan dengan benar, hasil yang diperoleh bisa menjadi bias dan berpotensi menimbulkan kesalahan dalam interpretasi medis.
Kondisi Tubuh Dehidrasi
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan masyarakat adalah tidak minum air sama sekali saat sahur karena mengira puasa berarti tidak boleh minum sebelum pemeriksaan.
Padahal, hal ini justru dapat memicu dehidrasi yang memengaruhi hasil tes.
Menurut Meita, dehidrasi dapat menyebabkan kondisi hemokonsentrasi, yaitu penurunan volume plasma darah sehingga beberapa parameter tampak meningkat secara semu.
Cek Juga: Mengapa Nutrisi Ibu Saat Hamil Penting? Ini Penjelasan Konsep Fetal Programming
“Akibat dehidrasi, kadar ureum, hematokrit, dan berat jenis urine dapat terlihat meningkat meskipun sebenarnya bukan disebabkan oleh gangguan kesehatan,” terangnya.
Karena itu, pasien tetap dianjurkan untuk minum air putih yang cukup saat sahur agar kondisi hidrasi tubuh tetap stabil sebelum menjalani pemeriksaan laboratorium.
Pola Makan Sahur yang Tidak Seimbang
Kesalahan lain yang juga sering terjadi adalah mengonsumsi makanan berlebihan saat sahur, terutama makanan tinggi lemak dan gula.
Kebiasaan ini dapat memengaruhi kadar trigliserida maupun glukosa darah sehingga hasil pemeriksaan menjadi tidak akurat.
Meita menyarankan agar masyarakat memilih menu sahur yang lebih seimbang, seperti karbohidrat kompleks, protein yang cukup, serta lemak dalam jumlah wajar.
Selain itu, konsumsi kopi atau teh secara berlebihan juga sebaiknya dihindari karena memiliki efek diuretik ringan yang dapat meningkatkan risiko dehidrasi selama puasa.
Datang Terlalu Sore dan Aktivitas Berlebihan

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah melakukan pemeriksaan laboratorium terlalu siang atau sore hari.
Pada waktu tersebut, risiko dehidrasi biasanya sudah lebih tinggi sehingga dapat memengaruhi kondisi tubuh.
Lihat Juga: Mengenal Tiga Bakteri Utama Penyebab ISK pada Lansia Menurut Penelitian TLM Umsida
“Waktu yang paling direkomendasikan untuk pemeriksaan laboratorium saat puasa adalah pagi hari sekitar pukul 08.00 hingga 10.00 karena kondisi metabolik tubuh masih relatif stabil,” ujar Meita.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk menghindari olahraga berat sebelum pemeriksaan karena aktivitas fisik yang terlalu intens dapat meningkatkan beberapa parameter seperti kreatinin, asam laktat, maupun glukosa sementara.
Dengan persiapan yang tepat, hasil pemeriksaan laboratorium akan lebih akurat dan dapat membantu tenaga medis dalam menilai kondisi kesehatan secara lebih tepat.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara persiapan yang benar sebelum menjalani tes laboratorium, terutama saat menjalankan ibadah puasa.
Sumber: Andika Aliviameita SST MSi
Penulis: Elfira Armilia















