d4tlm.umsida.ac.id-Burnout menjadi tantangan serius di sektor kesehatan, terutama bagi tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan medis. Burnout tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga menurunkan kualitas layanan yang diberikan kepada pasien.
Baca Juga: Peran Krusial TTLM dari Analisis Laboratorium hingga Keputusan Medis
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para akademisi di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Fikes Umsida), ditemukan bahwa tingkat burnout yang tinggi dapat berdampak langsung terhadap efektivitas kerja tenaga kesehatan, khususnya di Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Sidoarjo.

Burnout sendiri merupakan sindrom stres kerja yang ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi, serta berkurangnya rasa pencapaian dalam pekerjaan. Sindrom ini dapat menyebabkan tenaga kesehatan kehilangan empati terhadap pasien, menjadi kurang peduli terhadap kondisi pasien, bahkan meningkatkan risiko kesalahan dalam tindakan medis.
Faktor Penyebab Burnout dalam Dunia Kesehatan
Penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap burnout tenaga kesehatan:
-
Beban Kerja yang Tinggi
Tenaga kesehatan sering kali bekerja dalam jam kerja panjang dengan tuntutan tinggi. Kurangnya istirahat dan tekanan untuk menangani banyak pasien dalam satu waktu menjadi faktor utama yang memicu stres berlebihan. -
Kurangnya Dukungan Psikologis dan Lingkungan Kerja yang Tidak Kondusif
Ketidakpastian dalam pekerjaan, kurangnya dukungan dari rekan kerja maupun manajemen, serta konflik interpersonal dapat memperburuk kondisi mental tenaga kesehatan. -
Tingkat Kelelahan Fisik dan Mental yang Tinggi
Bekerja dalam kondisi darurat, menghadapi pasien dengan kondisi kritis, serta menghadapi risiko tertular penyakit dapat meningkatkan kelelahan baik secara fisik maupun mental. -
Kurangnya Waktu untuk Pemulihan
Sistem kerja shift yang panjang dan minimnya waktu istirahat sering membuat tenaga kesehatan mengalami kelelahan kronis, yang kemudian mengarah pada penurunan produktivitas dan kualitas layanan.
Dampak Burnout terhadap Kualitas Layanan Kesehatan
Kelelahan yang dialami tenaga kesehatan berdampak signifikan terhadap kualitas layanan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa kategori burnout sedang dan cukup memiliki dampak signifikan terhadap penurunan kualitas pelayanan, sementara burnout tinggi tidak selalu berpengaruh, kemungkinan karena tenaga kesehatan dengan tingkat burnout tinggi sudah tidak lagi peduli dengan pekerjaannya.
Dampak burnout terhadap layanan kesehatan antara lain:
- Menurunnya Kualitas Komunikasi dengan Pasien
Burnout dapat menyebabkan tenaga kesehatan menjadi kurang sabar dan kurang empati dalam berkomunikasi dengan pasien, sehingga dapat berdampak negatif pada pengalaman pasien. - Meningkatnya Risiko Kesalahan Medis
Stres berlebihan dan kelelahan kronis meningkatkan kemungkinan kesalahan dalam diagnosis, pemberian obat, atau prosedur medis lainnya. - Menurunnya Kepuasan Pasien
Ketika tenaga kesehatan mengalami kelelahan, pelayanan yang diberikan menjadi kurang optimal, sehingga menurunkan tingkat kepuasan pasien. - Meningkatnya Turnover dan Absensi Tenaga Kesehatan
Banyak tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri atau mengambil cuti panjang, yang dapat memperburuk krisis tenaga medis.
Strategi Mengatasi Burnout dalam Dunia Kesehatan
Menanggapi fenomena kelelahan yang semakin meluas, langkah-langkah strategis perlu diterapkan untuk mengurangi dampaknya. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh institusi kesehatan untuk mengurangi burnout tenaga kesehatan meliputi:
-
Meningkatkan Manajemen Beban Kerja
Rumah sakit perlu mengatur beban kerja tenaga kesehatan dengan lebih baik, termasuk membatasi jam kerja yang berlebihan serta memberikan waktu istirahat yang cukup. -
Meningkatkan Dukungan Psikologis bagi Tenaga Kesehatan
Penyediaan layanan konseling dan program kesehatan mental bagi tenaga kesehatan dapat membantu mereka mengelola stres dan kelelahan dengan lebih baik. -
Menciptakan Lingkungan Kerja yang Lebih Positif
Membangun budaya kerja yang lebih suportif, dengan komunikasi yang terbuka antara tenaga kesehatan dan manajemen, dapat membantu mengurangi tekanan psikologis. -
Mendorong Program Relaksasi dan Mindfulness
Teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, dan mindfulness dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan. -
Peningkatan Insentif dan Apresiasi bagi Tenaga Kesehatan
Memberikan penghargaan atas kerja keras tenaga kesehatan, baik dalam bentuk insentif finansial maupun non-finansial, dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja mereka.
Baca Juga: Pijat Oksitosin Tingkatkan Produksi ASI: Solusi Efektif bagi Ibu Nifas untuk Menyusui Optimal
Kelelahan tenaga kesehatan adalah masalah serius yang mempengaruhi kualitas layanan medis di Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa burnout yang dialami tenaga kesehatan dapat menurunkan kepuasan pasien, meningkatkan risiko kesalahan medis, serta mengganggu kesejahteraan tenaga medis itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif untuk mengatasi burnout, termasuk manajemen beban kerja yang lebih baik, dukungan psikologis yang lebih kuat, serta penguatan budaya kerja yang lebih positif.
Sumber: Chylen Setiyo Rini
Penulis: Novia