d4tlm.umsida.ac.id – Kuku yang menguning, menebal, atau mudah rapuh sering kali dianggap masalah ringan.
Banyak orang memilih mengabaikannya karena tidak menimbulkan nyeri hebat.
Padahal, perubahan tersebut bisa menjadi tanda infeksi jamur kuku atau Tinea unguium, penyakit yang dapat berkembang kronis jika tidak ditangani dengan tepat.
Riset yang dilakukan oleh Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida).
Chylen Setiyo Rini SSi MSi, Dr Miftahul Mushlih SSi MSc dan Puspitasari SST MPH dosen TLM, bersama mahasiswa Aqiliyanti Nur Aini.
Menemukan bahwa infeksi jamur kuku cukup tinggi pada pekerja konstruksi di Bangkalan.
Dari 28 responden, 18 orang terkonfirmasi terinfeksi jamur penyebab Tinea unguium.
Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi kuku bukan sekadar gangguan kosmetik, melainkan persoalan kesehatan yang nyata.
Cek Juga: Olah Limbah Cangkang Kupang, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 PKP2 PTMA 2025
Dari Perubahan Warna hingga Kerusakan Kronis

Tinea unguium disebabkan oleh jamur dermatofita seperti Epidermatophyton floccosum, Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes yang dalam penelitian ini menjadi spesies dominan.
Jamur tersebut menghasilkan enzim keratinase yang mampu menguraikan keratin pada kuku, sehingga kuku berubah warna, menebal, dan rapuh.
Baca Selengkapnya: Riset Umsida Ungkap Pentingnya Ergonomi dan K3 bagi Lansia yang Masih Aktif Bekerja
Pada tahap awal, gejalanya mungkin hanya berupa bercak putih atau kekuningan di ujung kuku. Namun jika dibiarkan, infeksi dapat menyebar ke seluruh permukaan kuku, bahkan ke kulit di sekitarnya.
Proses ini berjalan perlahan, tetapi konsisten, sehingga banyak penderita tidak menyadari bahwa infeksi telah menjadi kronis.
Lingkungan Kerja dan Risiko yang Berulang
Lingkungan lembap, sepatu tertutup dalam waktu lama, serta paparan tanah menjadi faktor risiko utama.
Kondisi ini menciptakan suhu dan kelembapan ideal bagi pertumbuhan jamur. Tidak hanya dermatofita, penelitian juga menemukan jamur non-dermatofita seperti Aspergillus sp dan Scopulariopsis, yang memperluas spektrum infeksi kuku pada pekerja lapangan.
Infeksi yang tidak diobati berisiko menimbulkan komplikasi, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Selain itu, infeksi dapat menyebar ke anggota keluarga melalui kontak tidak langsung, seperti penggunaan alas kaki atau alat potong kuku bersama.
Pentingnya Diagnosis dan Pencegahan Dini
Penelitian ini menggunakan media kultur Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan identifikasi mikroskopis dengan Lactophenol Cotton Blue untuk memastikan jenis jamur penyebab infeksi.
Baca Juga: Terobosan Herbal Ketumbar dan Jahe Merah Tingkatkan Profil Darah pada Penderita Hiperlipidemia
Pendekatan laboratorium ini menegaskan pentingnya diagnosis yang akurat sebelum terapi diberikan.
Infeksi jamur kuku memang terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa kronis dan mengganggu kualitas hidup.
Edukasi personal hygiene, menjaga kebersihan kaki, serta mengeringkan kaki setelah bekerja menjadi langkah sederhana namun efektif dalam pencegahan.
Menganggap Tinea unguium sebagai masalah kecil justru membuka ruang bagi infeksi untuk berkembang lebih jauh. Kesadaran sejak dini adalah kunci agar penyakit yang tampak ringan ini tidak berubah menjadi beban kesehatan jangka panjang.
Sumber: Riset Mahasiswa TLM
Penulis: Elfira Armilia.















